Rabu, 29 Desember 2010

UTEROTONIKA


Uterotonika
Di bagi oxytocid dan Tocolytic :
1. OXYTOCIC
Adalah obat yang dapat meningkatkan kontraksi otot polos uterus. Banyak obat memeperlihatkan efek oksitosik, tetapi hanya beberapa saja yang kerjanya cukup selektif dab dapat berguna dalam praktek keperawatan. Obat yanng bermanfaat itu ialah oxytocin(oksitosin) dan derivatnya, alkaloid ergot dan derivatnya, dan beberapa prostaglandin semisintetik. Obat- obat tersebut memperlihatkan respons bertingkat (graded respons) pada kehamilan, mulai dari kontraksi uterus spontan, ritmis sampai kontraksi tetani. Meskipun obat ini mempunyai efek farmakodinamik lain, tetapi manfaat dan bahayanya terutama terhadap uterus. Derivat prostaglandin merupakan obat yang baru dikembangkan tahun tujuh puluhan. Pembicaraan di sini terbatas pada efek Prostaglandin E dan F terhadap uterus serta penggunaannya sebagai abortivum, dan oksitosin untuk induksi partus.
1.1 Oxytocin (Oksitosin)
Oksitosin merangsang otot polos uterus dan kelenjar mama. Fungsi perangsangan ini bersifat selektif dan cukup kuat. Stimulus sensoris pada serviks, vagina, dan payudara secara refleks melepaskan oksitosin dari hipofisis posterior. Sensitivitas uterus terhadap oksitosin meninggi bersamaan dengan bertambahnya umur kehamilan. Pada kehamilan tua dan persalinan spontan, pemberian oksitosin meningkatkan kontraksi fundus uteri meliputi peningkatan frekuensi, amplitudo dan lamanya kontraksi. Partus dan laktasi masih tetap berlangsung meskipun tidak ada oksitosin, tetapi persalinan menjadi lebih lama dan refleks ejeksi susu (milk ejection) menghilang. Oksitosin dianggap memberikan kemudahan dalam persalinan serta memegang peranan penting dalam refleks ejeksi susu.

# FARMAKOLOGI

UTERUS. Oksitosin merangasang frekuensi dan kekuatan kontraksi otot polos uterus. Efek ini tergantung pada konsentrasi estrogen. Pada konsentrasi estrogen yang rendah, efek oksitosin terhadap uterus juga berkurang. Progestin digunakan secara luas di klinik untuk mengurangi aktivitas uterus pada kasus abortus habitualis meskipun efektivitasnya tidak jelas. Pada kehamilan trimester I dan II aktivitas motorik uterus sangat rendah, dan aktivitas ini secara spontan akan meningkat dengan cepat pada trimester III dan mencapai puncaknya pada saat persalinan. Oksitosin dapat memulai atau meningkatkan ritme kontraksi uterus pada setiap saat, namun pada kehamilan muda diperlukan dosis yang tinggi. Oksitosin menyebabkan pengelepasan prostaglandin pada beberapa spesies, tetapi tidak jelas apakah ini merupakan efek primernya atau berhubungan dengan kontraksi uterus.

KELENJAR MAMA. Bagian alveolar kelenjar mama dikelilingi oleh jaringan otot polos, yaitu mioepitel. Kontraksi mioepitel menyebabkan susu mengalir dari saluran alveolar ke dalam sinus yanng besar, sehingga mudah dihisap bayi. Fungsi ini di namakan ejeksi susu. Mioepitel sangat peka terhadap oksitosin. Sediaan oksitosin berguna untuk memperlancar ejeksi susu, bila oksitosin endogen tidak mencukupi. Juga berguna untuk mengurangi pembengkakan payudara pasca persalinan.

SISTEM KARDIOVASKULER. Apabila oksitosin diberikan dalam dosis besar akan terlihat relaksasi otot polos pembuluh darah secara langsung. Terjadi penurunan tekanan sistolik dan terutama penurunan tekanan sistolik dan terutama penurunan tekanan diastolik, warna kulit menjadi merah, dan aliran darah ke ekstermitas bertambah. Bila dosis besar diberikan terus menerus secara infus, maka penurunan tekanan darah akan diikuti sedikit penggian tekanan darah tetapi menetap. Dosis oksitosin untuk indikasi obstetrik, tidak jelas menimbulkan penurunan tekanan darah. Penurunan tekanan darah jelas terjadi pada penderita yang mendapat dosis besar, yang diberikan selama anestesia dalam. Otot polos yang sensitif terhadap oksitosin hanyalah uterus, pembuluh darah dan miopitel kelenjar payudara.

# FARMAKOKINETIK
Oksitosin memberikan hasil baik pada pemberian parenteral. Pemberian oksitosin intranasal, meskipun kurang efisien lebih disukai daripada pemberian parenteral. Oksitosin diabsorpsi dengan cepat melalui mukosa mulut dan bukal sehingga memungkinkan oksitosin diberikan sebagai tablet hisap.
Cara pemberian nasal atau tablet hisap dicadangkan untuk penggunaan pasca-persalinan. Selama kehamilan, kadar aminopeptidase dalam plasma(oksitosinase atau sistil aminopeptidase) meningkat sepuluh kali dan menurun setelah persalinan. Enzim ini menginaktifkan oksitosin dan ADH melalui pemecahan ikatan peptida. Enzim ini diduaga meregulasi konsentrasi oksitosin lokal di uterus tetapi sedikit pengaruhnya terhadap eliminasi kadar oksitosin dalam plasma. Di duga sumber oksitosinase ini adalah plasenta. Waktu paruh oksitosin sangat singkat, antara 12-17 menit. Penurunan kadar plasma sebagian besar disebabkan ekskresi oleh ginjal dan hati.

Penggunaan klinik adalah
a. Untuk diagnosa janin mengalami gangguan atau tidak, terjadinya sirkulasi pada placenta.
b. Untuk terapi; Mempercepat proses persalinan, tidak mungkinnya keluar janin secara sempurna, meningkatkan pancaran air susu ibu, perdarahan setelah melahirkan,dan sulitnya air susu keluar.
Mempunyai efek samping,yaitu kematian janin karena adanya hipertensi , sobeknya uterus karena kontraksi kuat, afibrinogeremia ( menurunnya fibrin dalam darah). Dan mempunyai kontra indikasi,prematur dan keadaan janin abnormal. Pada janin yang tidak normal tdk boleh diberi oxytocin.

1.2 Alkaloid Ergot
Sumber alkaloid ergot ialah claviceps purpurea suatu jamur yang hidup sebagai parasit dalam butir rye dan gandum, banyak terdapat di Eropa dan Amerika. Penyebaran penularan terjadi melalui perantaraan serangga dan angin yang memindahkan spora ke kepala putik yang sudah di buahi. Selanjutnya spora mengeluarkan miselium yang akan menembus putik, kemudian membentuk jaringan padat berwarna ungu dan menjadi keras. Substansi ini dinamai sklerosium. Sklerosium inilah yang merupakan sumber ergot.
Zat- zat dalam ergot. Ergot mengandung zat yang penting yaitu alkohol ergot dan zat lain seperti zat organik, karbohidrat, gliserida, steroid, asam amino, amin dan basa amonium kuatener. Beberapa amin dan basa memiliki efek farmakologi penting, misalnya histamin, tiramin, kolin, dan asetilkolin. Jamur Claviceps purpurea dibiak in vitro, seperti jamur penghasil antibiotik.
Alkaloid ergot terdapat sebagai isomer 1 dan d.Isomer 1 merupakan zat aktif (penamaan dengan akhiran -in), sedangkan isomer d tidak aktif sama sekali (penamaan dengan akhiran -inin). Yang pertama merupakan alkaloid alam, sedangkan yang kedua merupakan hasil perubahan oleh pengaruh zat kimia sewaktu isolasi. Alkaloid pertama yang berhasil di isolasi dalam bentuk kristal dan aktif ialah ergotoksin, yang waktu itu dianggap sebagai alkaloid murni. Sekarang terbukti bahwa ergotoksin merupakan campuran 4 zat, yaitu ergokristin,ergokornin,α- ergokriptin, dan β- ergokriptin.
Ergotamin. Ergotamin yang paling kuat dari kelompok alkaloid asam amino yang aktif, dan ergotamin yang tidak aktif merupakan alkaloid ergot murni yang pertama ditemukan. Kemudian ditemukan zat uterotonik larut air dinamakan ergonovin (ergometrin. Ergonovin dan turunannya menghasilkan asam lisergat dan amin pada hidrolisis, maka disebut juga alkaloid amin. Alkaloid dengan berat molekul tinggi yang mengandung asam lisergal, amonia, asam piruvat, prolin dan asam amino lainnya dikenal juga sebagai alkaloid asam amino atau ergopeptin. Salah satu derivat ergopeptin adalah bromokriptin.




# Farmakokinetik
Alkaloid asam amino, yaitu ergotamin di absorpsi secara lambat dan tidak sempurna melalui saluran cerna. Obat ini mengalami metabolisme lintas pertama, sehingga kadarnya dalam darah sangat rendah. Kadar puncak plasma dicapai dalam 2 jam. Pemberian 1 mg ergotamin bersama 100 mg kafein akan meningkatkan kecepatan absorpsi dan kadar puncak plasma ergotamin sebesar dua kali, namun biovailibitasnya tetap di bawah 1%.

Bersihan ergotamin hati kira- kira sama dengan alir darah hati, ini menjelaskan rendahnya bioavailabilitas oral. 90% metabolit dieksresi melalui empedu. Sebagian kecil obat yang tidak dimetabolisme, ditemukan di urin dan tinja. Keadaan ini yang menyebabkan ergotamin memperlihatkan efek terapeutik dan efek toksik yang lebih lama meskipun waktu paruhnya diplasma kira- kira 2 jam. Pada pemberian oral, bromokroptin diabsorbsi lebih sempurna dan dieliminasi lebih lambat dari ergotamin. Dihidroergotamin dan dihidroergotoksin diabsorpsi kurang sempurna dan dielaminasi lebih cepat dari ergotamin.

Alkaloid amin diabsorpsi secara cepat dan sempurna pada pemberian oral. Kadar puncak plasma dicapai dalam waktu 60-90 menit, 10 kali lebih besar daripada kadar puncak ergotamin pada pemberian dosis yang sebanding. Kontraksi uterus sudah terlihat dalam 10 menit setelah pemberian 0,2 mg ergonovin per oral pada wanita pasca persalinan. Metabolisme dan ekskresi ergonovin dan metil ergonovin berlangsung lebih cepat daripada ergotamin.

 Farmakodinamik
Berdasarkan efek dan struktur kimianya alkaloid ergot dibagi menjadi 3 kelompok :
1. Alkaloid asam amino dengan prototip ergotamin
2. Derivat dihidro alkaloid asam amino dengan prototip dihidro-
Ergotamin
3. Alkaloid amin dengan prototip ergonovin

UTERUS. Semua alkaloid ergot alam meningkatkan kontraksi uterus dengan nyata. Dosis kecil menyebabkan peninggian amplitudo dan frekuensi, kemudian diikuti relaksasi. Dosis besar menimbulkan kontraksi tetanik, dan peninggian tonus otot dalam keadaan istirahat. Dosis yang sangat besar menimbulkan kontraktur yang berlangsung lama. Sediaan ergot alam yang paling kuat adalah ergonovin.

SISTEM KARDIOVASKULER. Ergotamin dan alkaloid yang sejenis menimbulkan vasokonstriksi pada keracunan ergot. Terhadap sistem kardiovaskuler, ergotamin mempunyai efek paling kuat,dibandingkan dengan sediaan ergot lainnya. Dihidroergotamin mempunyai efek sedikit, sedangkan dihidroergotoksin boleh dikatakan tidak berefek. Alkaloid amin pada dosis terapi, hanya menyebabkan pegurangan aliran darah ke ekstremitas.

RESPONS VASKULER DAN MIGREN. Ergotamin efektif menghilangkan gejala migren. Efek ini tidak berdasarkan efek sedaktif dan analgetik. Nyeri migran antara lain dihubungkan dengan peningkatan amplitudo pulsasi arteri kranial, terutama cabang arteri karotis eksterna.

# EFEK SAMPING

Alkaloid ergot sangat toksik, dan dapat menimbulkan keracunan akut dan kronik. Ergotamin merupakan alkaloid yang paling toksik. Berdasarkan hal ini, maka ergonovin dan turunannya telah menggantikan ergotamin sebagai oksitosik. Keracunan akut terjadi pada percobaan menggugurkan kandungan dengan dosis besar. Gejala- gejalanya adalah mual,muntah,diare,gatal,kulit dingin,nadi lemah dan cepat,bingung dan tidak sadar. Keracunan fatal alkaloid asam amino dapat terjadi dengan dosis 26 mg per oral selama beberapa hari. Yang sering menderita komplikasi vaskular ialah mereka yang pernah mengalami penyakit penyumbatan pembuluh darah perifer.
Pada ergotisme kronik, baik yang disebabkan takar lajak maupun sensitivitas yang meningkat, jelas terlihat perubahan peredaran darah. Nyeri otot timbul selama berjalan dan bila berat timbul pada keadaan istirahat. Akhirnya terjadi gangren, biasanya terjadi di jari kaki atau jari tangan. Ada dua faktor yang menyebabkan gangren ini, yaitu vasokonstriksi dan yang lebih penting adalah kerusakan intim pembuluh darah yang menyebabkan terjadinya trombosis dan emboli arteri kecil.
Bila digunakan secara cermat dengan memperhatikan kontraindikasinya, ergotamin merupakan obat yang bermanfaat dan cukup aman. Efek samping berat diduga hanya terjadi 0,01% pemakai ergotamin. Komplikasi berat tidak sering dilaporkan sehubungan penggunaan ergotamin pada migren. Mual dan muntah terjadi pada 10% penderita yang diberi obat per oral, dan 20% parenteral. Selalu ada rasa lemah pada kaki dan rasa sakit pada otot yang kadang- kadang sangat hebat.
Terapi Ergotisme. Terapi beruapa penghentian pengobatan dan pemberian terapi simtomatis. Terapi simtomatis meliputi usaha mempertahankan aliran darah ke jarinngan. Obat yang pernah di gunakan adalah antikoagulan,dekstran dengan berat molekul rendah dan vasodilator rendah. Natrium nitroprusid merupakan vasodilator kuat yang dapat mengatasi gejala seseorang penderita ergotisme berat. Mual dan muntah dapat dihilangkan dengan atropin atau obat antiemetik gol. Fenotiazin.

1.3 PROSTAGLANDIN
Prostaglandin pertama kali diketemukan dari cairan semen manusia pada sekitar tahun 1930 oleh Ulf von Euler dari Swedia. Oleh karena diduga berasal dari kelenjar prostat, sang penemu memberinya nama prostaglandin.[1]
Prostaglandin, seperti hormon, berfungsi layaknya senyawa sinyal tetapi hanya bekerja di dalam sel tempat mereka tersintesis. Rumus bangun prostaglandin adalah asam alkanoat tak jenuh yang terdiri dari 20 atom karbon yang membentuk 5 cincin. Prostaglandin tersintesis dari asam lemak dan asam arakidonat.
Prostaglandin F2α memberi efek peningkatan MMP-1 dan MMP-3.[2]

Di dalam tubuh terdapat berbagai jenis prostaglandin (PG) dan tempat kerjanya berbeda- beda, serta saling mengadakan interaksi dengan autakoid lain, neurotransmitor, hormon serta obat- obatan. Prostaglandin ditemukan pada ovarium, miometrim dan cairan menstrual dengan konsentrasi berbeda selama siklus haid. Sesudah senggama ditemukan PG yang berasal dari semer; dalam sistem produksi wanita. PG (prostaglandin) ini diserap dari vagina dan cukup untuk menghasilkan kadar dalam darah, yang menimbulkan efek fisiologis. Walaupun PG (prostaglandin) ini sudah dipastikan sebagai oksitosik, namun status peranan fisiologiknya pada saat menstruasi dan kehamilan masih diperdebatkan. Dalam hal ini haruslah dibedakan antara efek fisiologik dan efek farmakologik; dosis farmakologik relatif tinggi dan lebih nyata. Pada manusia PG berperan penting dalam peristiwa persalinan. Berlainan dengan oksitosin, PG dapat merangsang terjadinya persalinan, pada setiap usia kehamilan. Pada saat persalinan spontan, konsentrasi PG dalam darah perifer dan cairan amnion meningkat.

# FARMAKOLOGI
Prostaglandin dapat dianggap sebagai hormon lokal, karena kerjanya terbatas pada organ penghasil dan segera diinaktifkan di tempat yang sama. Prostaglandin yang terdapat pada uterus, cairan menstrual dan cairan amnion ialah PGE dan PGF. Di bidang keperawatan penggunaan PG terbatas pada PGE2 dan PGF2α . Semua PGF merangsang kontraksi uterus baik hamil maupun tidak. Sebaliknya PGE2 merelaksasi jaringan uterus tidak hamil in vitro, tetapi memperlihatkan efek oksitosik lebih kuat dari PGF2α . Prostaglandin memperlihatkan kisaran dosis- respons yang sempit dalam menimbulkan kontraksi fisiologik, dan ini memudahkan terjadinya hipertoni uterus yang membahayakan.bahaya ini dapat dicegah dengan pengamatan yang cermat dan meningkatkan kecepatan infus secara sedikit demi sedikit.
Untuk mengakhiri kehamilan pada trimester II pemberian PGE2 DAN PGF2α ke dalam rongga uterus dengan menggunakan kateter atau suntikan memberikan hasil yang baik, disertai efek samping yang ringan. Sebaliknya untuk menghentikan kehamilan muda(menstruasi yang telat beberapa minggu); diperlukan dosis yang sangat besa, sehingga menyebabkan efek samping yang berat, dan derajat keberhasilan yang rendah.
PGE2 dan 15- metil PGF2α meningkatkan suhu tubuh sekilas dan diduga kerjanya melalui pusat pengatur suhu di hipotalamus. Dosis besar PGF2α menyebabkan hipertensi melalui kontraksi pembuluh darah, sebaliknya PGE2 menimbulkan vasodilatasi. Prostaglandin terdapat merata di dalam miometrium dan bekerja secara sinergis dengan oksitosin terhadap kontraksi uterus. Pemberian prostaglandin lokal pada serviks, menyebabkan serviks matang tanpa mempengaruhi motilitas uterus.

# POSOLOGI DAN SEDIAAN
Saat ini di Indonesia obat-obat ini belum beredar secara resmi.

KARBOPROS TROMETAMIN. 15-metil PGF2α yang tersedia dalam bentuk suntikan 250 µg/ml. Suntikan awal 1 ml IM (intra muskular) yang dalam, ulangi setelah 1,5-3,5 jam.

DINOPROSTON aialah PGE2α dapat menginduksi kontraksi uterus pada setiap tahap kehamilan. Obat ini dipilih bila induksi partus diperlukan sedang serviks belum terbuka misalnya pada kematian janin atau ketuban pecah dini. Penggunaan obat ini hanya boleh dilakukan oleh seorang ahli di rumah sakit yang memiliki fasilitas bedah dan fasilitas perawatan obstetrik yang intensif. Dinoproston tersedia dalam bentuk supositoria vaginal 20 mg. Tablet ini harus disimpan pada suhu 20oC. Obat harus ditaruh pada suhu kamar sebelum digunakan.

GEMEPROST. Merupakan analog alprostadil yang berefek oksitosik. Obat ini digunakan untuk melunakkan rahim dan mendilatasi serviks sebelum tindakan bedah untuk terminasi kehamilan. Biasa diberikan dalam kombinasi dengan mifeproston untuk terminasi kehamilan. Efek samping serupa prostaglandin lain terutama mual dan muntah, nyeri abdominal dan gangguan kardiovaskuler,dispnoe, palpitasi nyeri dada, pusing dan sakit kepala. 

 
Tocolytics adalah obat yang mencoba untuk berhenti kerja. Mereka digunakan jika persalinan dimulai sebelum panjang. Tocolytics bisa berhenti kerja tenaga kerja atau menunda untuk memberikan paru-paru bayi waktu untuk matang. Jika dimulai awal persalinan prematur, mereka mungkin efektif. Mereka tidak berhasil kemudian di tenaga kerja, jika membran telah rusak, atau jika leher rahim Anda sudah melebar melampaui 2 cm. Ketika mengambil obat ini, Anda mungkin perlu rawat inap atau terapi rumah.

Terbutaline, ritodrine, nifedipine dan magnesium sulfat semua digunakan sebagai obat tocolytic. Tocolytics tidak digunakan jika ibu memiliki chorioamnionitis (infeksi pada selaput di sekeliling bayi), abruptio plasenta, preeklampsia berat atau eklampsia, penyakit jantung, atau penyakit medis yang parah. Tocolytics juga tidak digunakan jika janin telah meninggal di dalam rahim, atau jika janin dalam kesusahan akut. Beberapa obat yang digunakan dalam kombinasi dengan obat lain.

    


      Terbutaline: Obat ini digunakan untuk menghentikan persalinan prematur. Hal ini juga dikenal sebagai Brethine. Hal ini dapat diambil sebagai pil, melalui IV (melalui kateter langsung ke dalam pembuluh darah Anda), sebagai suntikan, atau melalui pompa infus yang dikendalikan. Pompa digunakan untuk memberikan dosis rendah terus menerus terbutaline tersebut. Tambahan jumlah obat yang dapat diberikan jika meningkatkan aktivitas rahim. Sebuah subkutan (obat yang disuntikkan di bawah kulit Anda tetapi tidak langsung ke pembuluh darah) pompa infus dapat digunakan dengan pengawasan rumah rahim. Beberapa efek samping dapat meliputi gugup, gelisah, insomnia, sakit kepala, denyut jantung cepat, mual, hiperglikemia (gula darah tinggi) dan hipokalemia (kalium darah rendah). Sebuah efek samping yang jarang tetapi serius adalah edema paru. Bayi juga dapat mengalami detak jantung yang cepat dan gula darah tinggi atau rendah setelah lahir. Para ibu dan bayi harus dipantau saat mengambil obat ini. Dokter Anda harus diberitahu jika Anda memiliki sesak napas atau nyeri dada saat mengambil obat ini, atau jika kontraksi mulai lagi saat Anda berada di obat ini.
    


      Ritodrine: Obat ini digunakan untuk menghentikan persalinan prematur. Ia bertindak dalam cara yang mirip dengan terbutaline. Anda bisa menerimanya melalui IV. Efek samping seperti yang terbutaline. Jika Anda memiliki sejarah disritmia jantung (irama jantung yang tidak teratur) atau penyakit jantung, hipertensi atau tirotoksikosis (kelebihan hormon tiroid), Anda harus membicarakan hal ini dengan dokter Anda sebelum mengambil terbutaline atau ritodrine.
    


      Nifedipin: Obat ini digunakan untuk menghentikan kontraksi. Hal ini juga disebut Adalat atau Procardia dan diambil sebagai pil. Hal ini digunakan untuk menghentikan kontraksi dan tenaga kerja delay, dan juga dapat digunakan untuk iritabilitas uterus sesekali. Beberapa efek samping yang mungkin terjadi termasuk kemerahan pada wajah, sakit kepala, mual, jantung berdebar, dan ringan. Tidak ada efek samping yang serius baru lahir telah dicatat.
   

      Magnesium sulfat: Obat ini dapat digunakan untuk menghentikan kontraksi serta dalam pengobatan dan pencegahan kejang pada pasien dengan preeklampsia. Hal ini dapat diambil sebagai pil atau melalui infus. Efek samping termasuk perasaan kehangatan ekstrim, keringat, flushing, mual, muntah, penglihatan kabur, ringan, lesu, hidung tersumbat dan sembelit. Magnesium sulfat dapat mempengaruhi refleks Anda dan memperlambat pernapasan Anda. Beberapa wanita melaporkan nyeri dada, terutama jika mereka mengambil obat ini dengan yang lain dari tocolytics. Wanita yang telah myasthenia gravis, riwayat gangguan ginjal (masalah ginjal), blok jantung, atau riwayat infark miokard (serangan jantung) harus membicarakan hal ini dengan dokter Anda sebelum menggunakan magnesium sulfat. Efek samping biasanya hilang dalam beberapa hari. Janin mungkin menunjukkan tingkat dasar jantung menurun. Seorang bayi baru lahir yang telah terpapar magnesium sulfat mungkin tampak mengantuk, memiliki menangis lemah dan tingkat mengisap menurun pada periode postpartum dini. Ibu dan janin harus dipantau sementara di obat ini.
   

      Indometasin: Obat ini digunakan untuk mencoba menghentikan persalinan prematur, dan juga disebut Indocin. Hal ini dapat diambil sebagai pil atau sebagai supositoria (dalam dubur). Efek samping termasuk ketidaknyamanan perut, mual, muntah, depresi dan mantra pusing untuk ibu. Indocin juga dapat memiliki dampak serius pada janin jika digunakan jangka panjang atau jika usia kehamilan lebih besar dari 32-34 minggu. Obat ini mungkin juga berbahaya bagi ibu adalah dia memiliki sejarah gangguan perdarahan, sensitivitas aspirin, atau masalah ginjal.
    

      Betametason: Obat ini adalah steroid digunakan untuk membantu paru-paru janin berkembang lebih cepat. Hal ini juga disebut Celestone dan diberikan sebagai suntikan ke dalam jaringan otot. Penggunaan betametason dapat mengurangi kemungkinan bayi akan mengalami sindrom gangguan pernapasan saat lahir. Hal ini biasanya digunakan jika kelahiran prematur adalah kekhawatiran. Kadang-kadang dokter menggunakan deksametason, yang merupakan obat yang sangat mirip. Efek samping mungkin termasuk sulit tidur dan kadar gula darah yang lebih tinggi bagi ibu dan penurunan gerakan janin untuk bayi.

 Tocolytics (juga disebut anti-kontraksi obat atau repressants tenaga kerja) adalah obat yang digunakan untuk menekan persalinan prematur (dari tokos Yunani, melahirkan, dan litik, mampu melarutkan). Mereka diberikan ketika pengiriman akan mengakibatkan kelahiran prematur. Terapi ini juga membeli waktu untuk administrasi betametason, obat glukokortikoid yang sangat mempercepat kematangan paru janin, tetapi mengambil satu sampai dua hari untuk bekerja.
Penindasan kontraksi sering hanya parsial dan tocolytics hanya dapat diandalkan untuk menunda kelahiran selama beberapa hari. Tergantung pada tocolytic menggunakan ibu atau janin mungkin membutuhkan pemantauan, seperti untuk memonitor tekanan darah misalnya bila nifedipin digunakan sebagai mengurangi tekanan darah. Dalam hal apapun risiko persalinan prematur saja membenarkan rawat inap.

Daftar Pustaka :
1. Ismania,nila.2001.Departemen Farmakologi dan Terapeutk.Jakarta;widya medika
2. Raharja,kirana.2007.Obat-Obat Penting.Jakarta;Gramedia
3. http://www.spensershope.org/Tocolytic%20Medications.htm
4. http://id.wikipedia.org/wiki/Prostaglandin
5.  Katzung,bertram G.FARMAKOLOGI DASAR dan KLINIK.Jakarta;EGC